Tentang Festival Film Bahari

LATAR BELAKANG

Semesta lautan adalah keniscayaan Indonesia sebagai bangsa dan negara bahari sejak berabad-abad lampau. Bentangan laut yang menghidupi sebagian besar wilayah Indonesia adalah sebuah aset multisektor. Dinamika kebudayaan, ekonomi, sosial, politik, dan pertahanan keamanan, berjalan cepat seiring dengan elaborasi dan eksplorasi yang terus dilakukan. Hubungan antarbangsa pun berjalan sinergis dan kolaboratif karena Indonesia merupakan kawasan maritim strategis yang menghubungkan beragam kepentingan.

Lirik dari lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut yang diciptakan oleh ibu Sud menabalkan Nusantara, yang merupakan sebutan negara kepulauan sebelum dinamai Indonesia, sebagai sebuah bangsa yang memiliki rekam jejak panjang kearifan budaya maritim. Jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa di perairan Nusantara pada paruh pertama abad ke-16, pelaut-pelaut Nusantara telah menjelajahi berbagai samudera dunia. Hal ini termaktub pada beberapa literatur China, serta risalah-risalah musafir Arab dan Persia, yang menuliskan kisah tentang tradisi besar kelautan nenek moyang bangsa Indonesia.

Rekam jejak Nusantara yang legendaris sebagai negara kepulauan menginspirasi Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019, yaitu Joko Widodo, menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Gagasan ini mendapatkan perhatian beragam pihak dan sudah dimulai dengan kerja-kerja yang lebih nyata, diantaranya adalah pembangunan jalur dan alat transportasi laut yang modern. Aset bangsa yang berupa pantai dengan panjang mencapai 95.181 km (World Resources Institute, 1998), luas wilayah laut 5,4 juta km2, mendominasi total luas teritorial Indonesia sebesar 7,1 juta km2. Aset ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang terbesar di dunia, termasuk di dalamnya kekayaan keanekaragaman hayati dan non-hayati. Menjadi poros maritim dunia merupakan sebuah keniscayaan, yang harapannya semakin memperkuat basis ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat pesisir dan sekitarnya.

Berdasarkan butir-butir pemikiran di atas, ide sebuah kerja kebudayaan lahir, yaitu Festival Film Bahari. Kata “bahari” sendiri mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, 1991, h.76, yang menjelaskan, bahwa Bahari:  ba-ha-ri: (kl-klasik, untuk menandai penggunaannya dalam Melayu Klasik mengandung pengertian: dahulu kala, kuno, tua sekali: adat yang tua sekali.; (arkarkais, untuk menandai tidak lazimnya kata yang bersangkutan): mengenai laut; bahri. Selanjutnya ke.ba.ha.ri.an (n): segala sesuatunya yang berhubungan dengan laut.

Mengapa film? Seni ketujuh ini merupakan sebuah media komunikasi massa, yang mampu menyajikan pesan positif pada masyarakat penonton dalam bentuk rangkaian gambar dan suara, yang dapat menceritakan tentang dinamika kearifan dan kekuatan tradisi laut-bahari-maritim berikut dialektika manusia disekelilingnya. Kisah-kisah inspiratif akan diproduksi oleh para pembuat film dan disajikan untuk mentransformasikan potensi tradisi kelautan-kebaharian-kemaritiman ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang lebih luas. Hal ini diharapkan semakin menguatkan pemikiran, sikap dan laku kehidupan sehari-hari, bahwa aset yang sangat berharga dan memiliki rekam jejak legendaris ini harus terus dirawat dan diberdayakan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan masyarakat. Ragam film yang disajikan dari berbagai penjuru Nusantara merupakan kekayaan pendukung untuk mewujudkan tatanan tradisi laut-bahari-maritim yang lebih baik lagi.

Mengapa Cirebon? Sebagai sebuah daerah di Indonesia yang memiliki garis pantai kurang lebih 50 km, yaitu pesisir Kapetakan (Bungko) sampai Mertasinga, dan Mundu sampai Losari, Cirebon memiliki aset bahari-laut-maritim yang menarik. Diantaranya adalah perikanan, hutan magrove, terumbu karang, mineral dan bahan tambang, dan wisata alam. Masing-masing memiliki kekuatan untuk dieksplorasi lebih baik lagi dan memberikan manfaat yang besar untuk masyarakat. Pendekatan di dalam pengelolaan-pengembangan sumber daya ini harus mengedepankan partisipasi masyarakat, sehingga akan menghasilkan proses yang lebih memanusiakan manusia. Aset dan dinamika ini menjadikan Cirebon, yang juga memiliki sejarah panjang kasultanan, tidak saja memiliki bekal kultural yang kuat, tetapi juga sejarah yang kaya kisah. Kekuatan strategis ini menjadikan Cirebon sebuah daerah yang tepat untuk memulai sebuah hajatan kebudayaan dalam bentuk festival film yang mempromosikan tradisi laut-bahari-maritim Cirebon khususnya, dan Indonesia serta dunia pada umumnya.

 TUJUAN

  1. Apresiasi dan literasi tradisi laut-bahari-maritim melalui film.
  2. Promosi tradisi laut-bahari-maritim Indonesia ke dunia internasional.
  3. Menciptakan jaringan pembuat film dan masyarakat yang peduli pada aset dan pengembangan tradisi laut-bahari-maritim Indonesia.

 

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close