Merayakan Film Pendek: Indonesia Raja

Indonesia Raja adalah sebuah perayaan. Setidaknya itu yang saya yakini. Menjadi salah satu bagiannya sebagai programmer kota Cirebon, memberikan keasyikan tersendiri untuk saya. Mulai dari proses publikasi, menyeleksi dan memberikan catatan pada ikatan tema film-film terpilih. Mengapa lalu disebut perayaan? Karena gerakannya yang kolektif, tidak berorientasi keuntungan, dan terbuka, dapat diakses oleh siapapun. Bisa dibayangkan, film-film lokal produksi putra/i daerah bisa bertemu dengan banyak penonton di seluruh penjuru nusantara. Film yang tadinya tersimpan rapi di komputer pribadi lalu diputar di banyak tempat. Dan ini juga tidak kalah penting, laporan panitia pemutar bisa jadi adalah apresiasi penting, umpan balik untuk para pembuat film dari ragam perspektif penontonnya. Sehingga geliat perfilman dapat tumbuh bersama, mulai dari yang membuat film, yang menyebarkan, dan yang menonton. Menyenangkan bukan? ūüôā

November lalu, Festival Film Bahari bekerjasama dengan Cinema Cirebon dan Baraja Coffee Indonesia, memutarkan sejumlah film yang tergabung dalam program Indonesia Raja. Film menjadi sarana untuk bertemu dengan saudara dari lain kota.  Programmer adalah penentu film-film mana yang akan dibawa untuk ditukarkan dengan kota lain. Nah, ini letak menariknya. Menarik untuk menyimak rangkaian tema dari tiap kota. Pilihan tema tersebut bisa jadi mewakili tingkat pencapaian produksi di kotanya, atau bicara tentang hal lain, misal wajah kota dengan problematika yang lalu diusung lewat media film. Disini subyektifitas tiap individu programmer berbicara. Cynthia Astari dari Semarang mengumpulkan film-film tentang mereka yang beradaptasi dalam keterbatasan seperti difabilitas, kemiskinan, dan transgender.  Cynthia memotret bagaimana cara mereka berjuang, atau disini lebih ingin dibilang, berkelindan, dengan adaptasi.

Lain lagi dengan Yuli Andari dari Sumbawa. Dua film Sumbawa yang diikat tema, Dua Pertanyaan Untuk Laut, menyajikan persoalan sekaligus jawaban dalam 2 film besutan sutradara Anton Susilo. Kenapa Harus Ke Negara Lain, menyoal tentang laut yang dianggap tidak lagi menjanjikan untuk bisa dijadikan penghasilan, sehingga jawaban lain muncul. Hijrah. Pindah bekerja ke negara lain. Film kedua, Menari Diatas Ombak, penuh dengan simbol-simbol kelekatan manusia dengan laut. Tradisi laut, pemberian sesajen diiringi doa-doa, memberikan perspektif berbeda dengan film pertama. Film pertama menempatkan laut tidak sebagai jawaban dari persoalan, film kedua melihat optimisme bahwa laut masih memberikan harapan bagi masyarakatnya.

Ditutup dengan film-film kurasi program kota Cirebon, menjadi lengkap sudah perjalanan menonton film dari 3 kota pesisir. Dilanjutkan dengan diskusi setelah pemutaran, tanggapan berbagai rupa mencuat. Dialektika manusia dengan laut yang ditangkap oleh pembuat film, menjadi pembahasan tersendiri yang menarik untuk disimak. Lalu saya teringat sebuah ajakan dari Pak Karno,

“Usahakan agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.”

Mari membalikkan badan, tidak lagi memunggungi laut. Salah satunya melalui film.

 

Kemala. A

*Untuk keterangan lebih lanjut tentang Indonesia Raja bisa baca di sini

Iklan

Workshop Film Pesisir

 

Mengawali rangkaian program Festival Film Bahari, Minggu, 5 November 2017, kami mengadakan belajar bikin film untuk peserta pelajar, mahasiswa dan juga pemuda pemudi dari komunitas dan karang taruna. Bertajuk Workshop Film Pesisir, sebanyak 25 peserta belajar bersama bagaimana proses membuat film, khususnya dokumenter, selama seharian. Tomy W. Taslim dari filmpelajar.com sebagai pemateri, mengajak peserta untuk memahami proses membuat film dokumenter dari mulai tujuannya apa, untuk siapa, dan bagaimana keberpihakan kita bermuara pada kemanusiaan. Tidak hanya itu, peserta juga berkesempatan untuk terjun langsung ke wilayah kampung nelayan di daerah Samadikun, mempraktikkan teknik-teknik wawancara yang penting sebagai sebagian proses film dokumenter. Hasilnya cukup beragam. Ada yang mengangkat isu sampah di sekitar pepohonan mangrove, keterikatan nelayan dengan rentenir, ketimpangan sosial ekonomi di kawasan pesisir, dan lain sebagainya. Kiranya penemuan-penemuan berharga ini dapat dikembangkan menjadi sebuah karya film yang dapat memberikan pemahaman baru tentang pesisir dari kacamata orang pesisir.

Semangat berkarya teman-teman!

 

 

Pre-Event FFB: Pembekalan Panitia

Dalam rangka pre-event Festival Film Bahari (FFB), diadakan pembekalan panitia dan sosialisasi program pada hari Minggu, 22 Oktober 2017. Bertempat di gedung Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan Cirebon, menghadirkan pembicara Dr. Ir. Tukul Rameyo Adi, M. T, staf ahli Kemenko Maritim bagian Sosio-Antropologi. Selain itu, turut hadir juga bapak Nurdin M. Noer, budayawan dan wartawan senior Cirebon, yang berbagi informasi mengenai sejarah Cirebon sebagai kota Bahari. Dua pembicara lainnya adalah Susilo Adinegoro dari Sang Akar Institute, yang berbagi informasi mengenai festival film dan mengenai karya kolektif berbasis komunitas. Kemudian Tomy W. Taslim, dari filmpelajar.com, yang membagi ilmunya mengenai media film sebagai pembangun gerakan budaya untuk transformasi sosial.
FFB yang pertama ini, akan diadakan pada kisaran bulan Juli 2018. Mengangkat tema Pesisir sebagai Perangkai Nusantara, FFB diharapkan dapat membuka cakrawala masyarakat umum mengenai tradisi laut-bahari-maritim dari berbagai daerah, khususnya Cirebon sebagai kota pelabuhan dengan bentangan wilayah pesisir yang panjang. Pesisir yang merupakan bagian dari kemaritiman Indonesia, telah menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian dari pemerintah. Seperti dikutip dari penjelasan bapak Dr. Tukul Rameyo Adi, M. T. mengenai mengapa maritim menjadi salah satu isu penting saat ini, karena laut yang sangat luas, bukan sebagai pemisah, namun pemersatu bangsa, budaya dan politik sehingga menciptakan komunikasi dan toleransi dalam kebhinekaan. Karena itu melalui event FFB yang berskala nasional ini diharapkan masyarakat luas membuka diri terhadap pengetahuan mengenai kebaharian Indonesia, bukan lagi menjadi bangsa yang memunggungi lautnya.

Mari berlayar bersama!

WORKSHOP FILM PESISIR (untuk pelajar dan mahasiswa Cirebon)

workshop pesisir finalac

Halo teman, salam sinema!

Ikutan Workshop Film Pesisir yuk!

Ketentuan peserta workshop:

  1. Peserta adalah pelajar/mahasiswa/sederajat yang dibuktikan dengan Kartu Pelajar/KTM domisili Cirebon.
  2. Mempunyai tim produksi minimal 5 orang.
  3. Tim produksi ini nantinya yang akan berkompetisi membuat film pendek di Festival Film Bahari.
  4. Setiap tim mengirimkan 2 orang sebagai peserta Workshop Film Pesisir.

Sistem Pendaftaran:

  1. Membayar biaya workshop setiap peserta sebesar Rp. 50.000,- (sertifikat, makan siang, snack, materi).
  2. Peserta workshop mengisi formulir online di: http://bit.ly/2y33qLr
  3. Peserta workshop mengunggah video pendek durasi 59 detik, dengan tema ‚ÄúCerita Pesisir‚ÄĚ di Instagram. Mention ke akun @festivalfilmbahari dengan tagar #ceritapesisir.
  4. Hanya peserta tercepat menyelesaikan persyaratan yang akan terpilih mengikuti workshop.
  5. Kuota peserta workshop adalah 30 orang (15 tim produksi).

Program Workshop Film Pesisir:

  1. Hari / tgl : Sabtu, 4 November 2017

Acara     : Pemutaran dan diskusi film pendek dari kota Semarang, Sumbawa dan Cirebon yang tergabung dalam program pertukaran film pendek INDONESIA RAJA.

2. Hari / tgl : Minggu, 5 November 2017

Acara                     : Workshop Fim Pesisir

Pemateri             : Tomy Widiyatno Taslim

Biodata singkat pemateri:

Tomy W. Taslim aktif memberikan workshop film-video pendek di banyak sekolah, kampus, pesantren, lembaga swadaya masyakarat, dll. Pernah belajar di jurusan Televisi/Video – Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Film – Institut Kesenian Jakarta. Pernah menjadi dosen tamu di UI Jakarta, UNPAS Bandung, ISI Padangpanjang, IKJ Jakarta, dan Polimedia Jakarta. Ia juga merupakan pendiri Festival Film Pelajar Jogja yang sudah berjalan 7 tahun dan sampai sekarang menjadi fasilitator filmpelajar.com yang sudah berproses selama 8 tahun.

Ditunggu partisipasinya ya.

Ingat, jumlah peserta terbatas. Gagian melu lur, ayo adu kreatifitas!

Contact Person: Yogi ‚Äď 089680796075, Leni ‚Äď 08112218482, Adam ‚Äď 081331811254