Main ke Jublagan Festival

Beberapa hari yang lalu, kami berkesempatan main dan silaturahmi ke pesta laut/Nadran di salah satu desa di kabupaten Cirebon. Kiranya segala pesta kebudayaan yang mengangkat tradisi laut patut dilestarikan. Seperti Jublagan Festival ini yang diinisiasi oleh beberapa pemuda desa yang peduli. Berikut ceritanya.

Bertempat di desa Grogol, blok Depok, kecamatan Gunungjati, kabupaten Cirebon, Indonesia Raya. Sebuah hajatan digelar. Dalam rangka upcara Nadran, sebagai hajatan wajib di tiap tahun, di Cirebon. Untuk masyarakat pesisir, Nadran adalah tradisi bersejarah yang telah dilakoni masyarakat lokal sampai saat ini. Hajatan Nadran kali ini diberi tajuk ‘Jublagan’. Diadakan hari Minggu, 5 November 2017 dengan rangkaian acara mulai pukul 07.30 sampai selesai. Diantara rangkaian acaranya adalah Gong Renteng, mural perahu, graffiti jamming, tari topeng serta tarling.

Tradisi Nadran, dipercaya sebagai hasil akulturasi Islam dengan kebudayaan lokal. Upacara tradisi yang dilaksanakan masyarakat, sebagai perwujudan rasa syukur atas kebaikan Semesta yang telah diberikan, termasuk hasil laut. Nadran dipercaya juga sebagai sarana persembahan harapan untuk keselamatan dan tak berputusnya nikmat yang datang dari laut. Tradisi ini ditandai dengan pelarungan (penghanyutan) kepala kerbau yang telah diperlengkapi dengan rangkaian bunga dan persembahan makanan, untuk kemudian dilepaskan bebas ke laut yang luas. Seperti saat kami berbincang dengan Dwiki, salah seorang pemuda yang bergerak aktif di hajatan ini, perahu yang membawa kepala kerbau ini adalah inti dari Nadran. Maka dari itu, tidak semua orang bisa ikut menyertai perahu yang membawa persembahan ini, bahkan ia sendiri yang berkesempatan ikut perahu ini, meminta ijin pada orang tuanya untuk ikut di dalam perahu tersebut. Harap dan doa dipanjatkan pada sang Khaliq, melalui perantaraan hajatan ini. Wujud rasa terima kasih masyarakat setempat pada semesta lautan.

Kami juga berbincang dengan Dwiki mengenai makna dari tema yang diambil kali ini. Dia membagi informasi bahwasanya istilah ‘jublagan’ adalah istilah lokal yang sengaja dipakai untuk memperkenalkan ke khalayak ramai.’ Jublagan’ sendiri diartikannya sebagai lahan luas di pinggir kanan/ kiri sungai, yang pada hari biasanya digunakan warga setempat untuk kegiatan sehubungan dengan perahu, misalnya merangkai jala. Selain itu untuk kegiatan sehari-hari anaka-anak setempat, seperti bermain bola misalnya. Jublagan di desa itu, pada saat itu, menghias diri menyambut hajatan ini. Kami menjadi saksi.

Perayaan Nadran bertajuk ‘Jublagan’ ini bagi saya sendiri, tergolong unik. Sebuah hajatan tradisi tahunan dengan kemasan modern, namun sedikitpun tak menghilangkan esensi tradisi, bahkan menampilkan beberapa sajian lokal yang banyak dilupakan orang setempat, bahkan tidak banyak diketahui masyarakat setempat. Hajatan yang digagas oleh para pemuda yang memberikan nama untuk mereka sendiri dengan ‘Forum Pemuda Depok’. Dengan tetap didukung sesepuh desa tentunya, hajatan ini dikemas apik, dengan publikasi modern. Salah satunya jalan publikasi dengan media sosial, menampilkan keterangan lengkap mengenai semua ihwal hajatan. Tak heran yang datang untuk menjadi saksi hajatan tersebut antara lain dari Solo (saya sendiri), Jogjakarta, dan Jakarta. Selain masyarakat setempat sebagai lakon juga tentunya yang telah lama menjadi saksi hajatan tradisi ini.

Salah satu seni tradisi yang bersejarah yang disajikan adalah ‘tarling’. Menurut Dwiki dalam perbincangan santai dengan kami, tarling berasal dari kata gitar dan suling. Sarat dengan makna, yang ditampilkan adalah balada kehidupan masyarakat pesisir Cirebon. Yang ditampilkan saat itu adalah kelompok tarling Chandra Kirana, yang tergolong sebagai tingkatan maestro tarling. Saya sekali lagi menjadi saksi saat tarling ditampilkan. Saya apresiasi besar hajatan tradisi yang digagas oleh pemuda di desa ini. Tradisi tetap mendarah daging di jiwa mereka. Modernitas tak akan dapat menggeser yang telah menjiwa. Modernitas akan menjadi sarana, bukan esensi tradisi. Semoga ini adalah titik awal bangunnya pemuda, mulai memperdulikan tempat di mana kita berada, lahir, beranjak dewasa sampai nanti. Semoga semesta merestui niat luhur untuk membangkitkan jiwa peduli pada asal muasal kita, pada tanah tempat berpijak, pada air, lautan tempat kita mengadu nasib penghidupan.

Sekali lagi selamat atas terselenggaranya hajatan ini. Semoga akan ada hajatan lainnya menunggu yang digagas oleh pemuda.

Tabik. Rahayu.

Banyu Bening.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close