FESTIVAL FILM BAHARI 2019

4Sampurasun!

Festival Film Bahari hadir kembali di tahun keduanya. Sebuah perayaan sederhana di pesisir kabupaten Cirebon, dimana film menjadi media untuk menciptakan peristiwa nonton bareng, tukar gagasan, belajar hal baru, dan tentunya bersenang-senang sambil mengenal lebih dekat pesisir nusantara.

Tunggu info selanjutnya ya.

Ikuti terus perjalanan kami ūüôā

KOMPETISI FILM NASIONAL PELAJAR REKAM PESISIR

POSTER PELAJAR FFB IG-juliPOSTER KET PELAJAR FFB-juli

CATATAN AWAL

Mitos dan beragam kisah tentang laut-bahari-maritim-pesisir ada sejak Indonesia belum merdeka. Sebagian cerita memposisikan ekosistem laut-bahari-maritim-pesisir sebagai pemeran antagonis dalam kehidupan. Ada upaya pengaburan informasi tentang potensi kekayaan laut-bahari-maritim-pesisir oleh pihak tertentu agar bangsa Indonesia tidak mengeksplorasi secara maksimal. Festival Film Bahari merupakan salah satu ruang yang didedikasikan untuk belajar bersama tentang potensi-potensi baik dan luar biasa yang dimiliki laut-bahari-maritim-pesisir Indonesia. Melalui karya-karya film pendek pelajar yang beraneka warna dan menjadikan laut-pesisir dan sekitarnya sebagai subyek idenya, program kompetisi nasional ini diharapkan menjadi salah satu ajang untuk belajar mengenal lebih dekat dengan dunia laut-bahari-maritim-pesisir.

Memanggil pelajar nusantara untuk mengikuti Kompetisi Pelajar Rekam Pesisir. Ikutkan karyamu. Mari berproses bersama!

KETENTUAN KOMPETISI

  1. Peserta adalah pelajar SMA/SMK/MA dan yang setara di Indonesia.
  2. Kategori Fiksi, Dokumenter, dan Eksperimental.
  3. Tema: Pesisir Perangkai Nusantara.
  4. Pendaftaran tidak dipungut biaya (GRATIS).
  5. Durasi maksimal 10 (sepuluh) menit (sudah termasuk opening dan credit title).
  6. Tahun produksi 2013-2018.
  7. Karya dibuat individu/kelompok, dalam satu sekolah yang sama/berbeda, dan dikirimkan atas nama sekolah/lembaga pendidikan/sanggar/komunitas yang diikuti sutradara.
  8. Tim pembuat film adalah pelajar/usia pelajar yang masih aktif saat melakukan produksi/shooting (dibuktikan dengan scan kartu pelajar/KTP terbaru, minimal yang dimiliki oleh sutradaranya).
  9. Karya yang menggunakan bahasa lokal/daerah wajib diberi subtitle atau teks bahasa Indonesia.
  10. Boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) karya.
  11. Karya yang pernah mengikuti festival/kompetisi lain boleh diikutsertakan.
  12. Karya diunggah ke YouTube.com, kemudian link-nya dikirimkan ke: festivalfilmbahari@gmail.com paling lambat 1 Juli 2018, pukul 23:30 wib, bersama dengan formulir pendaftaran yang sudah diisi dan berkas lainnya.
  13. Musik/lagu dan materi lainnya (foto, video, grafis, dll) yang digunakan dalam karya tidak boleh menggunakan hak milik orang lain, kecuali ada ijin tertulis dari pembuatnya. Peserta bertanggungjawab sepenuhnya atas hal ini jika ada tuntutan pihak lain di kemudian hari.
  14. Hak cipta karya milik peserta. Khusus untuk kepentingan publikasi dan edukasi yang berhubungan dengan Festival Film Bahari, penyelenggara dapat menggunakan karya peserta (sebagian/utuh). Selain itu, karya terpilih juga akan ditampilkan di situs media/lembaga nirlaba lainnya yang menjadi mitra Festival Film Bahari, misal: FilmPelajar.com.
  15. Keputusan juri adalah mutlak, tidak dapat diganggu gugat. Jika dikemudian hari didapatkan bukti bahwa karya pemenang diragukan keasliannya, maka penyelenggara berhak membatalkan dan menarik penghargaan yang sudah diberikan.

PENGHARGAAN

Kompetisi Nasional ‚ÄúPelajar Rekam Pesisir‚ÄĚ Festival Film Bahari 2018¬†memberikan penghargaan non-moneter dalam bentuk piala dan sertifikat.

  1. Bahari Award

Diberikan untuk Film Pendek Pelajar Terbaik Kategori Fiksi.

Kriteria yang akan dinilai oleh Juri meliputi kesesuaian ide pokok/gagasan dengan tema, cerita, gaya bertutur, dan elemen teknis gambar serta suara.

    2. Baruna Award

Diberikan untuk Film Pendek Pelajar Terbaik Kategori Dokumenter.

Kriteria yang akan dinilai oleh Juri meliputi kesesuaian ide pokok/gagasan dengan tema, cerita, gaya bertutur, dan elemen teknis gambar serta suara.

  3. Pesisir Award

Diberikan untuk Film Pendek Pelajar Terbaik Kategori Eksperimental.

Kriteria yang akan dinilai oleh Juri meliputi kesesuaian ide pokok/gagasan dengan tema, keberanian melakukan eksperimentasi gaya bertutur (gambar dan suara), dan elemen teknis gambar serta suara.

Contact Person:

Irfan 082216065219 – 082214237318

 

 

KOMPETISI FILM PENDEK LAYAR CIREBON

POSTER LAYAR-juliPOSTER KET LAYARCRB FFB-juli

Sampurasun lur!

Mengundang seluruh filmmaker se-wilayah III Cirebon (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) untuk ikut kompetisi kreativitas. Kompetisi film pendek “LAYAR CIREBON” mengangkat tema “PESISIR PERANGKAI NUSANTARA” bertujuan sebagai wadah apresiasi terhadap tradisi budaya maritim-bahari dalam bentuk media film.

Yuk ikut. Ditunggu karyamu!

Ketentuan Kompetisi

  1. Peserta adalah masyarakat se-wilayah III Cirebon (Cirebon, Indramayu, Majalengka Kuningan).
  2. Kategori Fiksi dan Dokumenter.
  3. Tema: Pesisir Perangkai Nusantara.
  4. Pendaftaran tidak dipungut biaya (GRATIS).
  5. Durasi maksimal 10 (sepuluh) menit (sudah termasuk opening dan credit title).
  6. Tahun produksi 2013-2018.
  7. Tim pembuat film adalah penduduk wilayah III Cirebon (dibuktikan dengan scan kartu pelajar/KTP terbaru, minimal yang dimiliki oleh sutradaranya).
  8. Karya yang menggunakan bahasa lokal/daerah wajib diberi subtitle atau teks bahasa Indonesia.
  9. Boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) karya.
  10. Karya yang pernah mengikuti festival/kompetisi lain boleh diikutsertakan.
  11. Karya diunggah ke YouTube.com, kemudian link-nya dikirimkan ke: festivalfilmbahari@gmail.com paling lambat 1 Juli 2018, pukul 23:30 wib, bersama dengan formulir pendaftaran yang sudah diisi dan berkas lainnya.
  12. Musik/lagu dan materi lainnya (foto, video, grafis, dll) yang digunakan dalam karya tidak boleh menggunakan hak milik orang lain, kecuali ada ijin tertulis dari pembuatnya. Peserta bertanggungjawab sepenuhnya atas hal ini jika ada tuntutan pihak lain di kemudian hari.
  13. Hak cipta karya milik peserta. Khusus untuk kepentingan publikasi dan edukasi yang berhubungan dengan Festival Film Bahari, penyelenggara dapat menggunakan karya peserta (sebagian/utuh). Selain itu, karya terpilih juga akan ditampilkan di situs media/lembaga nirlaba lainnya yang menjadi mitra Festival Film Bahari.
  14. Keputusan juri adalah mutlak, tidak dapat diganggu gugat. Jika dikemudian hari didapatkan bukti bahwa karya pemenang diragukan keasliannya, maka penyelenggara berhak membatalkan dan menarik penghargaan yang sudah diberikan.

Penghargaan/Award

Kompetisi Film Pendek ‚ÄúLayar Cirebon‚ÄĚ Festival Film Bahari 2018 memberikan penghargaan non-moneter dalam bentuk piala dan sertifikat.

  1. Bahari Award

Diberikan untuk Film Pendek Terbaik Kategori Fiksi.

Kriteria yang akan dinilai oleh Juri meliputi kesesuaian ide pokok/gagasan dengan tema, cerita, gaya bertutur, dan elemen teknis gambar serta suara.

   2. Baruna Award

Diberikan untuk Film Pendek Terbaik Kategori Dokumenter.

Kriteria yang akan dinilai oleh Juri meliputi kesesuaian ide pokok/gagasan dengan tema, cerita, gaya bertutur, dan elemen teknis gambar serta suara.

 

 

 

Merayakan Film Pendek: Indonesia Raja

Indonesia Raja adalah sebuah perayaan. Setidaknya itu yang saya yakini. Menjadi salah satu bagiannya sebagai programmer kota Cirebon, memberikan keasyikan tersendiri untuk saya. Mulai dari proses publikasi, menyeleksi dan memberikan catatan pada ikatan tema film-film terpilih. Mengapa lalu disebut perayaan? Karena gerakannya yang kolektif, tidak berorientasi keuntungan, dan terbuka, dapat diakses oleh siapapun. Bisa dibayangkan, film-film lokal produksi putra/i daerah bisa bertemu dengan banyak penonton di seluruh penjuru nusantara. Film yang tadinya tersimpan rapi di komputer pribadi lalu diputar di banyak tempat. Dan ini juga tidak kalah penting, laporan panitia pemutar bisa jadi adalah apresiasi penting, umpan balik untuk para pembuat film dari ragam perspektif penontonnya. Sehingga geliat perfilman dapat tumbuh bersama, mulai dari yang membuat film, yang menyebarkan, dan yang menonton. Menyenangkan bukan? ūüôā

November lalu, Festival Film Bahari bekerjasama dengan Cinema Cirebon dan Baraja Coffee Indonesia, memutarkan sejumlah film yang tergabung dalam program Indonesia Raja. Film menjadi sarana untuk bertemu dengan saudara dari lain kota.  Programmer adalah penentu film-film mana yang akan dibawa untuk ditukarkan dengan kota lain. Nah, ini letak menariknya. Menarik untuk menyimak rangkaian tema dari tiap kota. Pilihan tema tersebut bisa jadi mewakili tingkat pencapaian produksi di kotanya, atau bicara tentang hal lain, misal wajah kota dengan problematika yang lalu diusung lewat media film. Disini subyektifitas tiap individu programmer berbicara. Cynthia Astari dari Semarang mengumpulkan film-film tentang mereka yang beradaptasi dalam keterbatasan seperti difabilitas, kemiskinan, dan transgender.  Cynthia memotret bagaimana cara mereka berjuang, atau disini lebih ingin dibilang, berkelindan, dengan adaptasi.

Lain lagi dengan Yuli Andari dari Sumbawa. Dua film Sumbawa yang diikat tema, Dua Pertanyaan Untuk Laut, menyajikan persoalan sekaligus jawaban dalam 2 film besutan sutradara Anton Susilo. Kenapa Harus Ke Negara Lain, menyoal tentang laut yang dianggap tidak lagi menjanjikan untuk bisa dijadikan penghasilan, sehingga jawaban lain muncul. Hijrah. Pindah bekerja ke negara lain. Film kedua, Menari Diatas Ombak, penuh dengan simbol-simbol kelekatan manusia dengan laut. Tradisi laut, pemberian sesajen diiringi doa-doa, memberikan perspektif berbeda dengan film pertama. Film pertama menempatkan laut tidak sebagai jawaban dari persoalan, film kedua melihat optimisme bahwa laut masih memberikan harapan bagi masyarakatnya.

Ditutup dengan film-film kurasi program kota Cirebon, menjadi lengkap sudah perjalanan menonton film dari 3 kota pesisir. Dilanjutkan dengan diskusi setelah pemutaran, tanggapan berbagai rupa mencuat. Dialektika manusia dengan laut yang ditangkap oleh pembuat film, menjadi pembahasan tersendiri yang menarik untuk disimak. Lalu saya teringat sebuah ajakan dari Pak Karno,

“Usahakan agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.”

Mari membalikkan badan, tidak lagi memunggungi laut. Salah satunya melalui film.

 

Kemala. A

*Untuk keterangan lebih lanjut tentang Indonesia Raja bisa baca di sini

Workshop Film Pesisir

 

Mengawali rangkaian program Festival Film Bahari, Minggu, 5 November 2017, kami mengadakan belajar bikin film untuk peserta pelajar, mahasiswa dan juga pemuda pemudi dari komunitas dan karang taruna. Bertajuk Workshop Film Pesisir, sebanyak 25 peserta belajar bersama bagaimana proses membuat film, khususnya dokumenter, selama seharian. Tomy W. Taslim dari filmpelajar.com sebagai pemateri, mengajak peserta untuk memahami proses membuat film dokumenter dari mulai tujuannya apa, untuk siapa, dan bagaimana keberpihakan kita bermuara pada kemanusiaan. Tidak hanya itu, peserta juga berkesempatan untuk terjun langsung ke wilayah kampung nelayan di daerah Samadikun, mempraktikkan teknik-teknik wawancara yang penting sebagai sebagian proses film dokumenter. Hasilnya cukup beragam. Ada yang mengangkat isu sampah di sekitar pepohonan mangrove, keterikatan nelayan dengan rentenir, ketimpangan sosial ekonomi di kawasan pesisir, dan lain sebagainya. Kiranya penemuan-penemuan berharga ini dapat dikembangkan menjadi sebuah karya film yang dapat memberikan pemahaman baru tentang pesisir dari kacamata orang pesisir.

Semangat berkarya teman-teman!

 

 

Main ke Jublagan Festival

Beberapa hari yang lalu, kami berkesempatan main dan silaturahmi ke pesta laut/Nadran di salah satu desa di kabupaten Cirebon. Kiranya segala pesta kebudayaan yang mengangkat tradisi laut patut dilestarikan. Seperti Jublagan Festival ini yang diinisiasi oleh beberapa pemuda desa yang peduli. Berikut ceritanya.

Bertempat di desa Grogol, blok Depok, kecamatan Gunungjati, kabupaten Cirebon, Indonesia Raya. Sebuah hajatan digelar. Dalam rangka upcara Nadran, sebagai hajatan wajib di tiap tahun, di Cirebon. Untuk masyarakat pesisir, Nadran adalah tradisi bersejarah yang telah dilakoni masyarakat lokal sampai saat ini. Hajatan Nadran kali ini diberi tajuk ‘Jublagan’. Diadakan hari Minggu, 5 November 2017 dengan rangkaian acara mulai pukul 07.30 sampai selesai. Diantara rangkaian acaranya adalah Gong Renteng, mural perahu, graffiti jamming, tari topeng serta tarling.

Tradisi Nadran, dipercaya sebagai hasil akulturasi Islam dengan kebudayaan lokal. Upacara tradisi yang dilaksanakan masyarakat, sebagai perwujudan rasa syukur atas kebaikan Semesta yang telah diberikan, termasuk hasil laut. Nadran dipercaya juga sebagai sarana persembahan harapan untuk keselamatan dan tak berputusnya nikmat yang datang dari laut. Tradisi ini ditandai dengan pelarungan (penghanyutan) kepala kerbau yang telah diperlengkapi dengan rangkaian bunga dan persembahan makanan, untuk kemudian dilepaskan bebas ke laut yang luas. Seperti saat kami berbincang dengan Dwiki, salah seorang pemuda yang bergerak aktif di hajatan ini, perahu yang membawa kepala kerbau ini adalah inti dari Nadran. Maka dari itu, tidak semua orang bisa ikut menyertai perahu yang membawa persembahan ini, bahkan ia sendiri yang berkesempatan ikut perahu ini, meminta ijin pada orang tuanya untuk ikut di dalam perahu tersebut. Harap dan doa dipanjatkan pada sang Khaliq, melalui perantaraan hajatan ini. Wujud rasa terima kasih masyarakat setempat pada semesta lautan.

Kami juga berbincang dengan Dwiki mengenai makna dari tema yang diambil kali ini. Dia membagi informasi bahwasanya istilah ‘jublagan’ adalah istilah lokal yang sengaja dipakai untuk memperkenalkan ke khalayak ramai.’ Jublagan’ sendiri diartikannya sebagai lahan luas di pinggir kanan/ kiri sungai, yang pada hari biasanya digunakan warga setempat untuk kegiatan sehubungan dengan perahu, misalnya merangkai jala. Selain itu untuk kegiatan sehari-hari anaka-anak setempat, seperti bermain bola misalnya. Jublagan di desa itu, pada saat itu, menghias diri menyambut hajatan ini. Kami menjadi saksi.

Perayaan Nadran bertajuk ‘Jublagan’ ini bagi saya sendiri, tergolong unik. Sebuah hajatan tradisi tahunan dengan kemasan modern, namun sedikitpun tak menghilangkan esensi tradisi, bahkan menampilkan beberapa sajian lokal yang banyak dilupakan orang setempat, bahkan tidak banyak diketahui masyarakat setempat. Hajatan yang digagas oleh para pemuda yang memberikan nama untuk mereka sendiri dengan ‘Forum Pemuda Depok’. Dengan tetap didukung sesepuh desa tentunya, hajatan ini dikemas apik, dengan publikasi modern. Salah satunya jalan publikasi dengan media sosial, menampilkan keterangan lengkap mengenai semua ihwal hajatan. Tak heran yang datang untuk menjadi saksi hajatan tersebut antara lain dari Solo (saya sendiri), Jogjakarta, dan Jakarta. Selain masyarakat setempat sebagai lakon juga tentunya yang telah lama menjadi saksi hajatan tradisi ini.

Salah satu seni tradisi yang bersejarah yang disajikan adalah ‘tarling’. Menurut Dwiki dalam perbincangan santai dengan kami, tarling berasal dari kata gitar dan suling. Sarat dengan makna, yang ditampilkan adalah balada kehidupan masyarakat pesisir Cirebon. Yang ditampilkan saat itu adalah kelompok tarling Chandra Kirana, yang tergolong sebagai tingkatan maestro tarling. Saya sekali lagi menjadi saksi saat tarling ditampilkan. Saya apresiasi besar hajatan tradisi yang digagas oleh pemuda di desa ini. Tradisi tetap mendarah daging di jiwa mereka. Modernitas tak akan dapat menggeser yang telah menjiwa. Modernitas akan menjadi sarana, bukan esensi tradisi. Semoga ini adalah titik awal bangunnya pemuda, mulai memperdulikan tempat di mana kita berada, lahir, beranjak dewasa sampai nanti. Semoga semesta merestui niat luhur untuk membangkitkan jiwa peduli pada asal muasal kita, pada tanah tempat berpijak, pada air, lautan tempat kita mengadu nasib penghidupan.

Sekali lagi selamat atas terselenggaranya hajatan ini. Semoga akan ada hajatan lainnya menunggu yang digagas oleh pemuda.

Tabik. Rahayu.

Banyu Bening.

 

Pre-Event FFB: Pembekalan Panitia

Dalam rangka pre-event Festival Film Bahari (FFB), diadakan pembekalan panitia dan sosialisasi program pada hari Minggu, 22 Oktober 2017. Bertempat di gedung Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan Cirebon, menghadirkan pembicara Dr. Ir. Tukul Rameyo Adi, M. T, staf ahli Kemenko Maritim bagian Sosio-Antropologi. Selain itu, turut hadir juga bapak Nurdin M. Noer, budayawan dan wartawan senior Cirebon, yang berbagi informasi mengenai sejarah Cirebon sebagai kota Bahari. Dua pembicara lainnya adalah Susilo Adinegoro dari Sang Akar Institute, yang berbagi informasi mengenai festival film dan mengenai karya kolektif berbasis komunitas. Kemudian Tomy W. Taslim, dari filmpelajar.com, yang membagi ilmunya mengenai media film sebagai pembangun gerakan budaya untuk transformasi sosial.
FFB yang pertama ini, akan diadakan pada kisaran bulan Juli 2018. Mengangkat tema Pesisir sebagai Perangkai Nusantara, FFB diharapkan dapat membuka cakrawala masyarakat umum mengenai tradisi laut-bahari-maritim dari berbagai daerah, khususnya Cirebon sebagai kota pelabuhan dengan bentangan wilayah pesisir yang panjang. Pesisir yang merupakan bagian dari kemaritiman Indonesia, telah menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian dari pemerintah. Seperti dikutip dari penjelasan bapak Dr. Tukul Rameyo Adi, M. T. mengenai mengapa maritim menjadi salah satu isu penting saat ini, karena laut yang sangat luas, bukan sebagai pemisah, namun pemersatu bangsa, budaya dan politik sehingga menciptakan komunikasi dan toleransi dalam kebhinekaan. Karena itu melalui event FFB yang berskala nasional ini diharapkan masyarakat luas membuka diri terhadap pengetahuan mengenai kebaharian Indonesia, bukan lagi menjadi bangsa yang memunggungi lautnya.

Mari berlayar bersama!